Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

all about of Sabun

Sabun adalah salah satu jenis deterjen yang bisa membersihkan kotoran berminyak dan menjadi bagian dari kelompok yang disebut surfaktan. Sabun yang dimaksud disini adalah produk campuran garam natrium dengan asam stearat, palmitat, dan oleat yang berisi sedikit komponen asam miristat dan laurat. Sabun merupakan kosmetik pembersih paling tua, sudah sejak berabad-abad yang silam. Umumnya masyarakat berpendapat sabun dan deterjen merupakan hal yang berbeda, bahkan banyak yang mengatakan bahwa sabun adalah lawan dari deterjen. Berbeda dengan pendapat ahli kimia, sabun atau berbagai macam sediaan pembersih kulit modern, baik berbentuk batang (bar), cair (liquid), atau bubuk (powder), adalah deterjen.

Peranan sabun, baik itu sabun mandi ataupun sabun cuci sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan manusia karena setiap hari semua orang mencuci dan mandi. Bagi orang awam, sabun adalah bahan yang digunakan sebaga pembersih kotoran dan salah satu contohnya adalah deterjen. Sebagai salah satu jenis bahan pembersih, deterjen merupakan buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. Pada sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang memiliki kemampuan menghasilkan busa yang pada waktu itu bahkan sampai sekarang diyakini memiliki peranan untuk menghilangkan kotoran secara efektif. Namun dari beberapa penelitian, disimpulkan bahwa ABS justru cenderung bersifat sebagai pencemar karena sifatnya yang sulit diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah. Akhirnya diketemukan senyawa baru yang lebih ramah lingkungan dan memiliki tingkat efektifitas yg lebih tinggi untuk menghilangkan kotoran, yaitu LAS.

Di sebagian besar negara di dunia, terutama negara maju, penggunaan ABS telah dilarang dan harus diganti dengan LAS. Hal ini dikarenakan sifat ABS tadi yang cenderung kurang ramah terhadap lingkungan. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah. Adanya busa yang melimpah inilah yang diyakini banyak pihak sebagai penyebab keengganan pihak produsen sabun untuk beralih bahan baku dari ABS menjadi LAS. Hal ini cukup lumrah dikarenakan masyarakat Indonesia yang lebih percaya bahwa semakin banyak busa yang dihasilkan, hasil cucian akan semakin bersih. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukkan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena daya kerja enzim dan pemutih akan efektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna, sebaiknya jangan menggunakan air hangat/panas. Hal itu hanya akal-akalan dari pihak produsen karena dengan begitu mereka akan tetap bisa memproduksi sabun dengan bahan baku yang relatif lebih murah. Jadi bisa disimpulkan bahwa efektifitas suatu sabun/ deterjan bukan bergantung dari seberapa besar busa yang dihasilkan.

Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut :

Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang termasuk bahan kimia organik. Ia memiliki rantai kimia yang sulit didegradasi (diuraikan) alam. Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan, atau istilah teknisnya, ia berfungsi sebagai emulsifier, bahan pengemulsi.. Zat kimia ini bersifat toksik (beracun) bila dihirup, diserap melalui kulit atau termakan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:
• Anionik :
• Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)
• Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
• Alpha Olein Sulfonate (AOS)
• Kationik : Garam Ammonium
• Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle
• Amphoterik : Acyl Ethylenediamines
Builder. Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
• Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
• Asetat :
• Nitril Tri Acetate (NTA)
• Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
• Silikat : Zeolit
• Sitrat : Asam Sitrat

Filler. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contohnya Sodium sulfat.

Aditif. Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contohnya Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar